Mengenal Generasi Sandwich dan Bagaimana Memutusnya

Posted: 13 Okt 2020from: EditorLast updated : 15 Sep 2021

Kamu pernah mendengar istilah generasi sandwich? Istilah yang dipopulerkan oleh seorang pekerja sosial bernama Dorothy Miller pada tahun 1981 silam, merefleksikan tekanan hidup yang seperti bentuk sandwich, dimana kamu menjadi bahan isiannya. Ya, generasi sandwich merupakan generasi yang menjadi tulang punggung bagi kehidupan keluarga kecilnya sendiri dan juga orang tuanya. Jadi posisi kamu berada di tengah, dan dihimpit dari atas dan bawah, seperti sandwich.


Umumnya, generasi yang masuk dalam kategori ini berada di rentang usia 30 tahun menuju 40 tahun. Dimana keluarganya masih terus membutuhkan biaya untuk berkembang namun di sisi lain, dia harus menanggung biaya orang tuanya sendiri karena sudah masuk usia lansia alias lanjut usia dan sudah tidak memiliki penghasilan.


Bagi kamu yang hidup dalam budaya timur, khususnya yang berada di wilayah Asia, termasuk didalamnya Indonesia, mengurus orang tua merupakan bentuk bakti terhadap jasa dan pengorbanan orang tua saat membesarkan dan membiayai kehidupan kita dulu.


Jadi bagi sebagian orang, hal itu bukanlah sesuatu yang dipandang berat, melainkan bentuk wujud syukur atas kehidupan yang dinikmati saat ini. Namun tanpa disadari, ketika fokus hidupnya hanya terpaku pada anak dan juga orang tua, kamu yang berada dalam “himpitan dua roti”, bakal mengalami tekanan yang umumnya tidak disadari.


Bentuk tekanannya bervariasi, ada yang menjadi tidak bersemangat dan cenderung menjauhi kehidupan sosialnya, ada juga yang merasa kesulitan menjalankan hobi ataupun mengelola pekerjaan dan ada pula yang merasa bahwa perjuangannya seakan tidak pernah berhenti karena besarnya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.


Jika dibiarkan, kondisi tersebut akan merontokkan mental dan psikis orang tersebut. Dirinya lupa, bahwa hasil kerja kerasnya selama ini juga perlu diapresiasi. Seperti membeli barang yang disukai, jalan-jalan untuk melepas penat dan juga stres pekerjaan, berkumpul bersama teman sambil bersenda gurau tidak dilakukan. Karena dirinya dihantui oleh rasa tanggung jawab atas kehidupan dua generasi yang berbeda tersebut.


Bahkan tak jarang, orang yang berada pada pola generasi sandwich, lupa untuk mempersiapkan kebutuhan untuk masa pensiunnya kelak. Alhasil, sampai usia tua, dia masih terus memutar otak untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya.


Penyebab munculnya generasi sandwich


Besarnya tanggung jawab yang diemban membuat mereka yang masuk dalam tahap generasi sandwich, merasa harus terus bekerja. Padahal tanpa disadari, mereka sudah menggunakan prinsip lilin, dimana api yang menyala mampu menerangi satu ruangan. Tetapi di sisi lain, tubuhnya akan terbakar habis guna menjaga nyalanya terus benderang.


Ada beberapa penyebab munculnya generasi sandwich, diantaranya adalah pola pikir tradisional yang masih menganggap bahwa anak adalah aset yang bisa dijadikan ladang untuk di “panen” kelak saat matang. Selain itu kurang piawainya kebanyakan orang tua dalam hal manajemen keuangan juga menajdi salahs satu faktor penyebabnya.


Jika dirunut lagi, bisa jadi hal itu merupakan bentuk pola asah asih dan asuh yang ditanamkan generasi sebelumnya ke generasi orang tua kamu. Jadi hal tersebut layaknya mata rantai yang tidak pernah ada akhirnya, hingga akhirnya diturunkan ke kamu, lalu kamu ke anak kamu dan seterusnya.


Selain itu, kurangnya perencanaan keuangan untuk menghadapi masa usia tidak produktif juga dituding menjadi salah satu penyebabnya. Pasalnya, saat masuk masa pensiun, orang tua sudah tidak memiliki penghasilan dan akhirnya mau tidak mau, akan menjadi tanggung jawab anak-anaknya kelak.


Putus Rantai Generasi Sandwich


Untuk memutus mata rantai generasi sandwich, kamu bisa melakukan beberapa hal, diantaranya adalah dengan menyiapkan uang pensiun saat nanti kamu sudah tidak bekerja lagi. Perihal uang pensiun merupakan hal yang kerap kali dilupakan oleh sebagian orang.


Kebanyakan orang malah terbuai akan mudahnya memetik kehidupan pada usia muda. Sehingga pendapatan bulanan malah banyak dihabiskan untuk hal yang sifatnya konsumtif.


1. Sama-Sama siapkan pensiun


Tidak hanya kamu yang harus bersiap, ajak orang tua untuk mempersiapkan dana pensiun. Kamu bisa mulai memberikan pemahaman tentang pentingnya mengelola keuangan sejak dini.


Selain itu, beri contoh, tunjukkan bahwa kamu juga sedang mempersiapkan dana pensiun. JJadi kamu bisa dengan mudah memberikan masukan kepada orang tua untuk melakukannya.


Ada banyak produk tabungan yang bisa kamu dan orang tua manfaatkan untuk menyiapkan dana pensiun, Sisihkan paling tidak 10% dari total pengeluaran bulanan. Misal, pengeluaran bulanan kamu Rp5 juta, sisihkan sekitar Rp500 ribu untuk dana pensiun. Kamu juga bisa mendaftarkan diri menjadi peserta Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) di bank kepercayaan kamu.


2. Kurangi perilaku hidup konsumtif


Tidak ada yang salah dengan konsumsi, malah hal itu bisa membantu mendorong perekonomian menjadi lebih kencang lagi. Tetapi upayakan untuk menjaganya seimbang dengan produktifitas. Jadi tidak semua penghasilan kamu menguap begitu saja.


Kebanyakan generasi milenial, berfokus pada pengalaman hidup. Itu pula yang membuat alokasi dana liburan menjadi lebih besar ketimbang alokasi dana untuk pengembangan usaha. Padahal dengan mulai berwirausaha, kamu bisa mendapatkan pengalaman sekaligus penghasilan tambahan.


3. Siapkan juga proteksi kesehatan


Saat masuk usia tua, biasanya kebutuhan biaya kesehatan menjadi lebih besar dari biasanya. Mulailah membekali diri dengan produk asuransi kesehatan. Kamu bisa membeli produk yang memiliki fasilitas lengkap, mulai dari rawat jalan hingga rawat inap.


Perhitungkan juga manfaat yang mungkin bisa didapat untuk perawatan di luar negeri. Meskipun kita semua berharap kesehatan yang prima, tetapi tidak ada salahnya mulai melakukan langkah mitigasi untuk hal yang berpeluang terjadi.


4. Perbanyak aset


Kamu yang saat ini masih tinggal serumah dengan orang tua, usahakan untuk tetap memiliki rumah pribadi. Karena selain melatih kemandirian, kamu juga sudah ikut melatih perencanaan keuangan.


Dengan begitu, orang tua mungkin bisa lebih leluasa untuk mengatur masa pensiunnya. Begitu pula kamu yang mulai bisa menata keuangan menjadi lebih baik lagi untuk masa depan semuanya.


Untuk mempercepat penambahan aset, kamu bisa menekuni dunia bisnis. Hal tersulit dalam bisnis adalah memulainya, karena itu membutuhkan keberanian dan juga tekad. Jadi mulai dari sekarang jalani bisnis yang kamu sukai, urusan modal mudah. Di Finpedia.id terdapat ragam prorudk keuangan yang bisa membantu kamu mewujudkan mimpi.


Finpedia adalah toko finansial yang menyediakan banyak produk keuangan dari lembaga keuangan yang terdaftar di OJK Mulai dari Kartu Kredit, kredit tanpa agunan (KTA), pinjaman modal usaha, kredit multi guna, program cicilan biaya pendidikan, membuka deposito, membuka tabungan dan masih banyak lagi. Caranya mudah, cuma tinggak klik Finpedia di ponsel pintar kamu.