Tips Hindari Kejahatan Phising Saat Transaksi Online

Posted: 19 Okt 2020from: EditorLast updated : 15 Sep 2021

Ada pepatah yang mengatakan, Teknologi itu netral, tergantung penggunanya mau menggunakan untuk kejahatan atau kebaikan. Nah biasanya, semakin maju teknologi, pelaku kejahatan juga menyesuaikannya. Karena sekarang penggunaan internet makin marak, pelaku kejahatan juga mulai bermigrasi ke dunia maya. Salah satu jenis kejahatan yang banyak dilakukan adalah phising,


Modus kejahatan seperti ini bermaksud mengelabui pengguna internet dengan menciptakan website palsu ataupun aplikasi palsu. Tujuannya untuk mencuri data finansial penggunanya, seperti data identitas penduduk, data nomor kartu kredit, nomor kartu debit ataupun kode one time password (OTP).


Istilah phising pertama kali mencuat pada tahun 1996. Orang yang melakukan phising disebut sebagai phiser. Adalah America Online (AOL) Usenet Newsgroup yang mencatat dan membukukan pertama kali istilah tersebut.


Phising Pertama Kali


Melansir Phising.org, aktvitas phising pertama kali dilakukan oleh Komunitas Warez. Phiser melakukan pencurian password pengguna dan menggunakan sistem algoritma untuk mengacak nomor kartu kredit sebagai jalan untuk masuk ke akun AOL.


Setelah itu, pelaku kejahatan menyebarkan spam ke pengguna lainnya dengan memberikan iming-iming penyederhanaan proses lewat program AOHELL. Namun aksi tersebut berakhir pada tahun 1995, ketika AOL membuat langkah keamanan untuk mencegah keberhasilan penggunaan nomor kartu kredit acak.


Di Indonesia, aktivitas phising juga sudah cukup banyak terjadi. Kebanyakan korban yang menjadi tindak pidana ini tergiur akan iming-iming harga murah dan juga bonus yang ditawarkan oleh produk tertentu.


Perusahaan Keamanan Siber Global, Kaspersky pernah merilis data terkait phising di Indonesia. Pada kuartal pertama tahun ini, perusahaan sudah memblokir sebanyak 192,59 ribu upaya phising terhadap Usaha Kecil Menengah (UKM) melalui surat elektronik alias e-mail. Nah berikut merupakan tips yang bisa kamu gunakan, supaya terhindari dari aktivitas phising. Berbelanjalah dengan bijak, agar semuanya menjadi aman.


1. Hindari menggunakan website yang tidak resmi


Data dari Anti Phising Working Group (APWG) menyebutkan, pada kuartal 2 tahun ini, aktivitas phising di media sosial seperti Facebook atau Whatsapp meningkat sebanyak 20%. Pelaku kejahatan biasanya menggunakan judul yang provokatif ataupun mengandung unsur kemanusiaan untuk memancing penggunanya.


Tema Covid-19 banyak dimanfaatkan oleh para phiser. Begitu kamu klik, biasanya kamu akan diarahkan ke laman lain yang mengharuskan kamu mengisi data diri dan data keuangan. JIka sudah begitu,jangan pernah memasukkan data pribadi apapun di laman tersebut.


Informasi yang sifatnya kemanusiaan memang menjadi alat yang ampuh untuk mengundang para pembaca masuk dan memberikan bantuannya. Kenali mana website yang resmi menjadi panggalangan dana dan mana yang scam alias penipuan.


Hal itu bisa terlihat dari URL yang tertera di website. JIka ada embel-embel lain dari website yang biasa kamu kunjungi, misal sebelumnya kamu terbiasa mengakses website tersebut dengan domain .com, lalu sewaktu kamu akses melalui media sosial, URL-nya memiliki domain lain, .com.xyz misalnya.


Lebih baik kamu tinggalkan dan ulangi kembali menggunakan website yang biasa kamu pakai. Setelah itu, cocokkan. Biasanya terdapat perbedaan domain atau kata didalam URL-nya.


2. Perhatikan juga gaya bahasanya


Sebuah perusahaan keuangan biasanya mengggunakan gaya bahasa yang formal, meskipun kadang ada juga yang menggunakan tata bahasa casual, tetapi bukan berarti menghilangkan sisi profesionalitasnya.


Dalam aktivitas phising website, bentuk dan juga warna memang akan serupa, tetapi tidak dengan gaya bahasa dan tata letaknya. Baiknya memang, ketika kamu merasa ada yang salah dengan website tersebut langsung kamu tinggalkan. Lalu akses kembali dengan menggunakan mesin pencari.


3. HIndari penawaran yang tidak masuk akal


Skema seperti ini biasanya digunakan melalui surat elektronik. Phiser akan memberikan penawaran harga yang sangat menarik untuk produk tertentu. Sistemnya memang random, namun tetap saja memiliki probabilitas. Jadi ketika melihat ada penawaran dari perusahaan tertentu yang sangat tidak masuk akal, lalu desain dan tata bahasanya juga kurang mewakili perusahaan tersebut, bisa jadi itu adalah jebakan.


Bijaklah dalam menggunakan transaksi. Semakin sedikit data pribadi kamu keluar, maka semakin aman juga hidup kamu. Kamu yang biasa menggunakan kartu kredit, jangan asal bertransaksi di website yang tidak kamu percaya.


Selain itu, jaga nomor kartu kreditmu agar tidak diketahui banyak orang. Jadi transaksi kamu bisa lebih aman dan menyenangkan. Belum punya kartu kredit? Ajukan di Finpedia. Kamu bisa mendapatkan penawaran menarik untuk memiliki kartu kredit Citibank. Dengan begitu, belanja menjadi lebih hemat dan juga nyaman.